Laga putaran pertama fase grup Piala Dunia ini menunjukkan pergerakan handicap yang sangat mengejutkan. Meski Iran lebih diunggulkan secara kekuatan, tren handicap justru mengisyaratkan sinyal risiko yang tak bisa diabaikan. Arah Selandia Baru untuk tidak kalah layak menjadi fokus utama.
Lihat dulu tren handicap-nya. Pada tahap awal, banyak bandar membuka Iran memberi satu gol, dengan harga tuan rumah berada di kisaran tinggi 1,04 hingga 1,12, bahkan beberapa perusahaan sempat membuka di setengah-satu gol. Menjelang laga, handicap mengalami penurunan tajam, hampir semua institusi menurunkannya dari satu gol ke setengah gol. Penurunan sebesar ini sangat jarang terjadi pada laga putaran pertama Piala Dunia. Yang lebih penting, setelah handicap turun, harga tuan rumah tidak menunjukkan penurunan yang jelas; sebaliknya, dari level rendah di awal justru dinaikkan bersama-sama ke kisaran menengah-tinggi 0,90 hingga 0,97. Satu perusahaan menurunkan handicap dari satu gol ke setengah gol, sementara harga tuan rumah turun dari 1,04 menjadi 0,93. Perusahaan lain menurunkan dari setengah-satu gol ke setengah gol, tetapi harga tuan rumah justru melonjak dari 0,75 ke 0,92. Kombinasi penurunan handicap dan kenaikan harga tuan rumah ini dengan jelas menunjukkan bahwa kepercayaan bandar terhadap Iran untuk menembus handicap sedang melemah drastis. Penurunan dari satu gol ke setengah gol berarti ambang kemenangan turun dua tingkat; Iran hanya perlu menang untuk bisa menang handicap, dan tingkat kesulitannya jauh berkurang. Namun justru ini akan membuat popularitas tuan rumah menumpuk, yang sangat merugikan peluang Iran untuk tembus.
Dari aspek dasar tim, ada juga petunjuk yang mendukung Selandia Baru. Dalam 10 laga terakhir, Iran mencatat 4 menang, 4 imbang, dan 2 kalah, dengan persentase kemenangan hanya 40 persen. Meski tingkat tak terkalahkan mencapai 80 persen, terlalu banyak hasil imbang menunjukkan tim ini kurang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pertandingan saat menghadapi lawan dengan kekuatan setara atau sedikit lebih lemah. Gelandang bertahan Roozbeh Cheshmi absen karena cedera lutut, sehingga pelindung lini belakang mereka sedikit berkurang. Selandia Baru memang hanya mencatat 1 menang, 1 imbang, dan 8 kalah dalam 10 laga terakhir, dengan performa yang buruk, tetapi catatan handicap mereka tidak jelek, dengan tingkat tembus handicap mencapai 50 persen. Mereka hanya kalah 0-1 dari Inggris dan kalah tipis 1-2 dari Kolombia, yang menunjukkan lini pertahanan mereka bukan tim yang mudah dihancurkan.
Dari sisi skuad, seluruh pemain Selandia Baru dalam kondisi sehat dan bisa tampil habis-habisan. Cadangan fisik serta intensitas duel mereka sering kali bisa merepotkan tim bertipe teknis. Iran memang unggul secara keseluruhan, tetapi tekanan laga perdana Piala Dunia ditambah efek negatif dari penurunan handicap yang tajam membuat kemenangan mudah bukan perkara sederhana. Dengan mempertimbangkan besarnya penurunan handicap dan dukungan dari faktor fundamental, arah Selandia Baru untuk tidak kalah layak diikuti.