Mari kita bedah dulu pergerakan handicap. Pada tahap awal, banyak bandar membuka Jepang memberi setengah bola nol, dengan harga tuan rumah terkonsentrasi di kisaran 0,78 hingga 0,99, sementara sebagian perusahaan langsung membuka handicap setengah bola. Menjelang laga, handicap mengalami penyesuaian kolektif, hampir semua bandar naik dari setengah bola nol menjadi setengah bola. Secara logika umum, kenaikan handicap berarti bandar semakin percaya pada kemenangan Jepang, dan seharusnya dibarengi penurunan lebih lanjut pada harga tim tuan rumah. Namun, perubahan harga yang terjadi justru tidak sepenuhnya sejalan dengan logika tersebut. Setelah handicap naik, harga tuan rumah tidak turun signifikan, malah secara kolektif terdorong naik dari level rendah pada awal menjadi kisaran 0,83 hingga 0,89. Salah satu bandar mengubah handicap dari setengah bola nol menjadi setengah seperempat, dengan harga tuan rumah dari 0,78 disesuaikan ke 0,99. Bandar lain menaikkan dari setengah bola nol ke setengah bola, dengan harga tuan rumah naik dari 0,79 menjadi 0,87. Kenaikan handicap yang dibarengi harga tuan rumah yang tidak turun malah sedikit naik, menunjukkan bandar tidak benar-benar menjagokan Jepang menang, melainkan mencoba menyeimbangkan arus taruhan dengan batas yang lebih tinggi dan harga yang tidak terlalu rendah. Niat sebenarnya patut diwaspadai.
Dari sisi fundamental, ada juga petunjuk yang mendukung Swedia. Jepang meraih 1 kemenangan dan 1 hasil imbang dari dua laga pertama untuk mengumpulkan 4 poin, sehingga peluang lolos sangat besar. Pada laga terakhir, mereka hanya perlu bermain imbang untuk memastikan tiket ke babak selanjutnya. Meski secara keseluruhan kualitas tim lebih unggul, sayap andalan Takefusa Kubo absen karena masalah lutut, sehingga daya dobrak dari sisi sayap akan berkurang signifikan. Kemenangan 4-0 atas Tunisia pada laga sebelumnya lebih banyak dipengaruhi oleh lawan yang kualitasnya lebih lemah. Saat menghadapi Swedia yang punya kemampuan duel fisik lebih kuat, efektivitas Jepang dalam membongkar pertahanan patut dipertanyakan. Swedia mengoleksi 1 kemenangan dan 1 kekalahan dari dua laga awal dengan 3 poin, dan pada laga terakhir mereka wajib menang untuk menguasai nasib lolos sendiri. Pada laga pertama, mereka menang telak 5-1 atas Tunisia. Di laga kedua melawan Belanda, meski akhirnya kalah 1-5, mereka sempat memberi perlawanan pada babak pertama. Striker seperti Alexander Isak dan Viktor Gyökeres memiliki kemampuan individu yang sangat baik, dan menghadapi lini belakang Jepang yang tidak sepenuhnya tanpa celah, Swedia sangat mungkin mencetak gol. Yang lebih penting adalah motivasi: Swedia harus menang, sementara Jepang bisa menerima hasil imbang. Perbedaan mentalitas ini akan sangat terasa dalam pertandingan. Jika digabungkan antara sinyal handicap yang naik tetapi harga tuan rumah tidak turun, serta perbandingan motivasi kedua tim, arah Swedia tidak kalah layak untuk diikuti.